
Flooring Guide by Cinvex – , JAKARTA — Aspek fundamental PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dinilai bisa menjadi bantalan meski harga saham tengah terkoreksi sepanjang tahun berjalan.
Head of Research MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan BBCA menjaga rata-rata Loan to Deposit Ratio (LDR) harian pada kisaran 78,9% di saat beberapa bank menghadapi tantangan likuiditas. Likuiditas ini memberikan fleksibilitas untuk tetap ekspansif, tetapi dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian agar kualitas aset terjaga.
Menurutnya, BBCA memiliki keunggulan dari sisi efisiensi, cost to income ratio (CIR) bank turun menjadi 29,1% pada semester I/2025 dari 30,5% secara tahunan. Efisiensi ini membuat laba operasional sebelum pencadangan (Pre-Provision Operating Profit/PPOP) meningkat 9,1% yoy menjadi Rp37,6 triliun.
: Aset Dana Pensiun BCA (BBCA) Tembus Rp6,02 Triliun per Juli 2025
“Beban operasional tumbuh hanya 5,3%, jauh lebih rendah dari pertumbuhan pendapatan. Ini menunjukkan manajemen mampu mengendalikan biaya di tengah ekspansi bisnis,” ujar Venny dalam keterangannya, Selasa (9/9/2025).
Sebelumnya BBCA mencatatkan laba bersih pada periode Januari–Juni 2025 sebesar Rp29 triliun, naik 8% dibandingkan periode sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didorong oleh pendapatan bunga yang naik 7% menjadi Rp42,5 triliun dan pendapatan non-bunga yang tumbuh 10,6% menjadi Rp13,7 triliun.
: : Deretan Saham Penekan IHSG Jeblok 1,28%, Ada BBCA, PANI, DCII
Penyaluran kredit mencapai Rp959 triliun atau tumbuh 12,9% secara tahunan, jauh di atas rata-rata industri yang hanya 7,3% yoy.
Dia menambahkan kekuatan BBCA juga bersumber dari basis pendanaan. Pertumbuhan dana pihak ketiga stabil di kisaran 6% yoy, ditopang giro yang naik 9% dan tabungan 6%.
: : IHSG Diproyeksi Bergerak Konsolidasi, Cek BBCA, ENRG hingga SIDO
Current Account Savings Account (CASA) bank, lanjutnya, kini mencapai 82,5% dari total dana pihak ketiga (DPK), level yang sangat tinggi dibandingkan rata-rata industri. Struktur pendanaan ini menjaga NIM BBCA tetap solid dan berkelanjutan.
Menurutnya, peningkatan LDR ke level 78,9% pada akhir semester I/2025 tidak menimbulkan kekhawatiran, justru menunjukkan bank memiliki ruang lebih besar untuk ekspansi kredit tanpa mengorbankan stabilitas likuiditas.
“CASA yang kuat memberikan buffer bagi NIM, sementara bauran kredit yang semakin sehat akan mendukung pertumbuhan laba,” katanya.
Di lantai Bursa, saham BBCA turun 2,27% ke level Rp7.525 pada perdagangan hari ini. Adapun, sepanjang tahun berjalan terkoreksi hingga 21,96%. Namun para analis menilai hal itu lebih disebabkan oleh rotasi sektor ketimbang pelemahan fundamental.
Diketahui, BBCA akan menggelar Public Expose Live pada Kamis, 11 September 2025. Momentum tersebut penting bagi investor untuk lebih memahami fundamental bank dengan model bisnis berbasis prudensial dan diversifikasi produk.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.