Beda Nasib Saham Energi Terbarukan dan Unggas Kena Efek Danantara

Flooring Guide by Cinvex – , JAKARTA –  Kehadiran proyek Danantara di sektor peternakan terpantau belum terlalu mengerek laju saham emiten unggas. Kondisinya berbeda dengan saat sovereign wealth fund (SWF) mengumumkan proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik (PSEL) yang mampu mengerek laju saham emiten sektor energi terbarukan (EBT).

Advertisements

Analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menilai reaksi pasar saham yang cenderung lambat terhadap kehadiran Danantara di sektor unggas sebenarnya wajar.

“Berbeda dengan sentimen investasi Danantara di sektor WTE yang dianggap memiliki potensi margin tinggi dan daya tarik ESG yang kuat. Sektor unggas sudah tergolong industri yang mature dan padat modal, dengan margin yang relatif tipis serta sensitif terhadap fluktuasi harga pakan dan daya beli masyarakat,” kata Ekky kepada Bisnis, Selasa (11/11/2025).

Adapun, pemerintah pada Jumat (7/11/2025) mengumumkan Danantara akan menggelontorkan investasi Rp20 triliun untuk membangun peternakan ayam terintegrasi. Hasil peternakan itu akan digunakan untuk suplai program makan bergizi gratis (MBG). Program prioritas tersebut dihitung akan membutuhkan pasokan 700.000 telur dan 1,1 juta ton ayam pedaging per tahun. 

: Danantara Danai Proyek Peternakan Ayam, Pengusaha Unggas Wanti-wanti Ini

Sentimen ini rupanya belum terlalu menggairahkan pasar saham, di mana emiten unggas JPFA pada Senin (10/11/2025) hanya naik 0,87% sedangkan CPIN cuma naik 1,08%. Hari ini, Selasa (11/11/2025), JPFA ditutup naik hanya 1,72% ke Rp2.360, sementara CPIN cuma naik 0,64% ke Rp4.700.

Advertisements

Meskipun berimbas lambat pada gerak saham unggas, Ekky menilai kehadiran Danantara secara tidak langsung akan berimbas pada kinerja fundamental emiten unggas dalam jangka menengah.

Di satu sisi, lanjut dia, program ini dapat memperkuat rantai pasok domestik dan meningkatkan ketersediaan ayam pedaging maupun telur untuk memenuhi kebutuhan program MBG.

Namun dari sisi risiko, Ekky menilai penambahan kapasitas produksi dalam jumlah besar juga berpotensi menimbulkan kelebihan pasokan di pasar, yang pada akhirnya bisa menekan harga jual ayam dan berdampak pada margin emiten unggas yang sudah ada.

Sedangkan untuk jangka pendek, dampaknya terhadap kinerja keuangan emiten unggas masih terbatas mengingat proyek Danantara masih dalam tahap perencanaan dan pembangunan infrastruktur peternakan. 

“Kontribusi terhadap volume penjualan dan profitabilitas pemain eksisting kemungkinan baru akan terasa setelah program tersebut mulai beroperasi. Selain itu, investor juga masih menunggu kejelasan mengenai skema bisnisnya, apakah akan melibatkan pemain unggas besar sebagai mitra distribusi atau penyedia pakan, atau sepenuhnya dijalankan oleh entitas baru di bawah Danantara,” tegasnya.

Dengan demikian, Ekky menyimpulkan hadirnya investasi Danantara di sektor unggas ini akan positif dari sisi fundamental jangka panjang emiten unggas. Namun, pasar masih melihatnya sebagai katalis bertahap (gradual), bukan sentimen yang langsung mendorong harga saham dalam waktu dekat.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements