
Flooring Guide by Cinvex – , JAKARTA – Saham blue chips LQ45 sepanjang tahun ini jauh tertinggal meskipun indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbuh lebih dari 20% year to date. Indeks komposit tahun ini lebih didorong oleh saham-saham lapis dua dan tiga. Namun, trennya pada 2026 diprediksi akan berganti.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai lonjakan IHSG sepanjang tahun ini didominasi oleh segelintir emiten big caps pada grup tertentu dengan free float yang tipis, sehingga mudah untuk dikendalikan atau diatur oleh pemain besar. Sementara itu, saham-saham konstituen LQ45 tertahan oleh narasi old economy dan sentimen asing yang masih wait and see.
“Pada 2026 bisa jadi tahun pembalikan arah. Valuasi LQ45 sekarang sudah murah, sementara lapis 2-3 sudah bubble [naik terlalu pesat dan berpotensi koreksi],” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).
Proyeksi tersebut juga didorong oleh pelonggaran moneter suku bunga acuan Bank Indonesia maupun The Fed. Dalam kondisi ini, menurutnya investor asing akan masuk ke pasar modal melalui saham-saham LQ45 seperti sektor perbankan maupun telekomunikasi karena membutuhkan likuiditas.
Dari sisi risiko pasar, ketika bubble saham-saham tier dua dan tiga pecah akan menyebabkan panic selling yang menyeret sentimen pasar ke arah negatif.
: Emiten Prajogo Pangestu, CDIA Tebar Dividen Interim Perdana Setelah IPO
Sementara itu, bila menilik apa yang dilakukan regulator pada tahun ini, Wafi menilai upaya meperkuat pasar seperti kebijakan free float hingga demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa menangkal praktif goreng saham.
“Sejauh ini, saham gampang digoreng karena free float kecil. Dengan float besar, manipulasi jadi mahal dan susah. Sementara itu, demutualisasi juga bikin pengawasan lebih ketat. Jangka pendek mungkin [pasar] akan volatil, tapi jangka panjang bisa menjadi fondasi agar IHSG juga pasar efisien dan investable di mata global,” pungkasnya.
Melansir statistik BEI per penutupan pasar Senin (29/12/2025), IHSG menunjukkan pertumbuhan 22,10% year to date. Sedangkan, saham-saham blue chips seperti indeks LQ45 hanya meningkat 3,07%, maupun IDX30 yang hanya menguat 3,76% sejak awal tahun.
Pada saat yang sama, IDX SMC Composite melejit 55,42% YtD, indeks SMC Liquid juga meningkat 17,84%. Dari sisi papan pencatatan, ketimpangan serupa juga terlihat. Main Board hanya naik 12,22% YtD, sedangkan Development Board dan Acceleration Board melonjak lebih dari 100%, masing-masing 112,24% YtD dan 156,32% YtD.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.