
Flooring Guide by Cinvex JAKARTA – Sentimen pasar terhadap saham-saham minyak dan gas (migas) awal 2026 ini membaik seiring dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menguntungkan bagi emiten migas pemilik eksposur tinggi terhadap greenback.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengatakan sentimen positif itu tercermin dari masuknya dana asing yang signifikan dengan nilai foreign net buy sekitar Rp2,04 triliun pada pekan pertama Januari 2026, seiring efek musiman January Effect.
“MEDC memperoleh rekomendasi buy dengan target harga di kisaran Rp1.800, sementara AKRA juga direkomendasikan buy dengan target harga rata-rata Rp1.500 berkat karakter bisnisnya yang defensif,” kata Abida kepada Bisnis, Selasa (13/1/2026).
Sementara itu, saham emiten migas lain seperti PGAS dan ENRG menurutnya tetap menarik untuk strategi buy on weakness, didorong oleh ekspektasi peningkatan volume transmisi gas nasional serta peluang penemuan cadangan energi baru.
: Harga Minyak Dunia Memanas, Terpompa Isu Venezuela dan Risiko Pasokan
Adapun, nilai tukar rupiah telah melemah delapan hari beruntun, menjadikannya ada di level Rp16.876,50 per dolar AS. Level ini menjadi yang terendah sejak April 2025. Menurutnya, dampak pelemahan rupiah ini diperkirakan akan tercermin cukup nyata dalam laporan keuangan kuartal I/2026, khususnya melalui peningkatan pendapatan secara nominal bagi emiten migas yang mayoritas kontrak penjualannya berbasis dolar AS.
Abida mengatakan, meski harga minyak mentah global diproyeksikan melemah ke rentang US$55–US$56 per barel pada 2026, emiten dengan eksposur gas alam yang dominan seperti MEDC dan ENRG diprediksi mampu menjaga stabilitas margin karena harga gas relatif lebih premium dan tidak terlalu volatil.
“Di sisi lain, potensi kerugian selisih kurs pada kewajiban dalam dolar tetap menjadi risiko, namun langkah efisiensi operasional serta pengelolaan struktur permodalan yang prudent diharapkan dapat menopang kinerja laba di tengah ketidakpastian makroekonomi,” ujarnya.
Di tengah kondisi pelemahan rupiah dan pelemahan harga minyak global, Abida melihat PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) sebagai emiten dengan fundamental paling tangguh dalam menghadapi depresiasi rupiah, didukung oleh model bisnis pass-through yang memungkinkan penyesuaian harga kepada pelanggan serta posisi keuangan yang sangat solid dengan kondisi kas bersih.
Berikutnya, PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) menurutnya juga menunjukkan kesiapan yang kuat melalui pengelolaan utang valas yang disiplin, termasuk aksi pembelian kembali obligasi untuk menekan beban kewajiban, serta struktur biaya produksi yang efisien di kisaran US$8,8 per barrel of oil equivalent (boe).
“Kedua emiten tersebut memiliki arus kas yang kuat dan terdiversifikasi, sehingga mampu menjaga stabilitas keuangan meskipun volatilitas nilai tukar meningkat,” tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.