IHSG Melorot Pascademo, Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Tetap Solid

Flooring Guide by Cinvex – Di tengah gejolak aksi demonstrasi di ibu kota dan sejumlah daerah, pemerintah memastikan fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan yang solid. Meski, indeks harga saham gabungan (IHSG) melorot. Nilai tukar rupiah juga masih terdepresiasi.

Advertisements

Pada perdagangan Senin (1/9), IHSG dibuka di level 7.620,10. Hingga jeda sesi I ditutup 7.770,98. Terkoreksi 59,51 poin atau minus 0,76 persen dari penutupan perdagangan saham Jumat (29/9) sebesar 7.830,49.

“Penurunan hanya terjadi saat demo besar hari Jumat, untuk itu pemerintah yakin optimisme ini masih ada di tengah tengah kita dan harus kita jaga,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam dialog stabilitas pasar modal Indonesia di main hall Bursa Efek Indonesia (BEI).

Secara umum, IHSG dalam momentum menguat selama pekan lalu. Bahkan sempat mencapai all time high 8.000. IHSG ditutup di level 7.952,088 pada Kamis (28/8). Melampaui rekor sebelumnya di level 7.943,825 pada Rabu (20/8).

Dari sisi nilai tukar, Airlangga menuturkan, rupiah sebesar Rp 16.490 per USD hingga 29 Agustus 2025. Relatif stabil meski masih mencatatkan depresiasi 2,35 persen sejak awal tahun. Sedangkan, data terkini Bloomberg Market Spot Rate sampai pukul 12.00 WIB, mencatat rupiah berada di level Rp 16.481 per USD.

Pelemahan IHSG Diprediksi Lanjut Pekan Depan

Advertisements

Airlangga mengklaim, konsumsi domestik yang masih kuat. Seiring meningkatnya mobilitas masyarakat, kenaikan aktivitas belanja ritel offline maupun online, dan dorongan stimulus untuk daya beli. Selain itu, perputaran uang dan transaksi keuangan di berbagai provinsi menunjukkan masih tingginya aktivitas ekonomi secara spasial.

“Pemerintah terus mendorong stimulus untuk daya beli, terutama menjelang nanti Natal dan Tahun Baru. Di Agustus ini program diskon 17 persen di perusahaan-perusahaan ritel juga berjalan dan menjadi event yang meningkatkan perdagangan,” ujarnya.

Untuk mencapai target pertumbuhan 5 sampai 5,2 persen di tahun ini, lanjut dia, pemerintah telah menyiapkan strategi komprehensif yang telah dimulai di semester II 2025. Yakni, kenaikan investasi yang bisa diharapkan mencapai Rp 924 triliun. Juga meningkatnya impor barang modal 32,5 persen Year-on-Year (YoY).

Kemudian, capital expenditure badan usaha milik negara (BUMN) dan belanja modal pemerintah 17,94 persen yang akan mendorong produktivitas hingga tahun depan. “Realisasi belanja negara diharapkan di kuartal III bisa mencapai 25 persen (dari total APBN) atau sebesar Rp 694 triliun dan mempercepat realisasi belanja kementerian/lembaga,” jelasnya.

Advertisements