
Flooring Guide by Cinvex JAKARTA — PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan komitmen untuk menjaga transparansi di pasar modal Indonesia yang sesuai dengan standar global.
Hal itu disampaikan otoritas bursa saham RI usai penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan penangguhan perubahan konstituen saham asal Indonesia yang membuat IHSG longsor.
Melansir data RTI Infokom, IHSG ditutup melemah pada level 8.221,21 pada perdagangan sesi I hari ini, atau turun 7,34%. IHSG bergerak pada rentang 8.269-8.596. Sebanyak 30 saham menguat, 764 saham melemah, dan 10 saham stagnan. Kapitalisasi pasar IHSG mencapai Rp15.087 triliun.
Saham PT Petrosea Tbk. (PTRO) afiliasi Prajogo Pangestu ambrol siang ini, dengan turun 14,87% ke level Rp7.300 per saham. Penurunan dalam juga terjadi pada saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) kongsi Grup Bakrie dan Grup Salim. Saham BUMI terperosok 14,53% ke level Rp294 per saham pada sesi I hari ini. Demikian juga dengan saham milik Aguan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk. (PANI) yang turun 14,89% ke level Rp9.575 di sesi I hari ini.
: IHSG Ditutup Ambrol 7,34% Sesi I, Saham PTRO, BUMI, hingga PANI Terjun ke Zona Merah
IHSG terperosok pada sesi I hari ini setelah MSCI mengumumkan peringatan bagi pasar modal Indonesia dengan membekukan sementara perlakuan indeks untuk saham-saham dalam negeri lantaran kekhawatiran isu free float dan aksesibilitas pasar.
Sekretaris Bursa Efek Indonesia Kautsar Primadi Nurahmad menyatakan bahwa otoritas pasar modal yang meliputi OJK, BEI, dan KSEI akan terus melakukan diskusi intensif dengan pihak MSCI setelah pengumuman tersebut.
Selain itu, otoritas Bursa juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan transparansi data emiten guna memenuhi standar global.
“Kami telah meningkatkan keterbukaan dengan menyampaikan pengumuman data free float di situs web BEI. Namun, jika dirasakan MSCI belum cukup, kami akan terus melakukan diskusi atas transparansi data sesuai proposal MSCI untuk menemukan kesepakatan,” ucap Kautsar, Rabu (28/1).
Langkah penangguhan oleh MSCI ini menjadi kemunduran terbaru bagi pasar saham Indonesia setelah penyusun indeks tersebut mengidentifikasi adanya masalah mendasar terkait kelayakan investasi.
“[Masih ada] masalah mendasar terkait kelayakan investasi,” tulis MSCI dalam keterangannya, dikutip Bloomberg pada Rabu (28/1/2026).
MSCI juga menyebut masih ada kekhawatiran terhadap upaya terkoordinasi untuk mendistorsi harga untuk saham-saham asal Indonesia.
Jika Indonesia gagal menunjukkan kemajuan transparansi hingga Mei mendatang, MSCI akan meninjau ulang status aksesibilitas pasar yang berisiko menurunkan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index.
: Saham Big Caps Longsor Efek Pengumuman MSCI, BBCA dan BMRI Anjlok 5%
Adapun penangguhan tersebut merupakan kelanjutan dari pengetatan definisi free float oleh MSCI terhadap emiten di Indonesia, yang saat ini tercatat memiliki rata-rata kepemilikan publik terkecil di Asia.
Apabila data saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan ternyata lebih sedikit dari yang dilaporkan, investor pasif akan terpaksa mengurangi kepemilikan mereka pada saham-saham Indonesia.
Sebagai informasi, MSCI adalah perusahaan riset investasi global yang menyediakan indeks saham, data, dan alat analisis portofolio yang menjadi acuan utama bagi manajer investasi dan investor di seluruh dunia. Sementara itu, indeks MSCI adalah indeks yang diluncurkan oleh MSCI untuk mencerminkan pergerakan harga saham pada berbagai kategori yang dibentuk.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.