
Flooring Guide by Cinvex – , JAKARTA – Nasib pasar saham Indonesia menjadi sorotan setelah Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman kompak mengundurkan diri di tengah gejolak pasar yang dipicu kebijakan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di tengah dinamika tersebut, OJK dan BEI telah mengagendakan pertemuan dengan MSCI pada Senin (2/2/2026) guna membahas tindak lanjut pembekuan rebalancing indeks saham Indonesia, sekaligus merespons kekhawatiran pasar atas arah kebijakan ke depan.
Pada Jumat (30/1/2026), jajaran pimpinan Self Regulatory Organization (SRO) secara beruntun menyatakan mundur. Dimulai dari Direktur Utama BEI Iman Rachman pada pagi hari sekitar pukul 08.30 WIB, disusul Ketua OJK Mahendra Siregar yang mengajukan pengunduran diri pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB.
Pengunduran diri tersebut terjadi di tengah tekanan pasar saham dalam dua hari terakhir. Indonesia kini memiliki waktu hingga Mei 2026 untuk memperbaiki transparansi data pasar saham. Pasalnya, selain membekukan rebalancing, MSCI juga memberi sinyal penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi frontier market apabila perbaikan transparansi yang diminta tidak dapat dipenuhi oleh SRO.
Jika skenario tersebut terjadi, peluang masuknya dana investor asing ke pasar modal domestik dinilai akan semakin terbatas. Sentimen negatif itu tercermin pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak pengumuman MSCI pada 27 Januari 2026, yang membuat IHSG ambles hingga 8% dan memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai pergantian pimpinan SRO merupakan hal yang lumrah dalam dinamika pasar. Namun, figur pengganti Mahendra dan Iman nantinya diharapkan memiliki kompetensi, integritas, serta kredibilitas yang lebih kuat di mata pelaku pasar.
: : Inarno Djajadi Lepas Jabatan Petinggi OJK, Intip Profilnya
“Mundurnya pimpinan OJK tentunya harus bisa menciptakan fungsi otoritas dengan baik ke depan. Terutama di bidang financial market. Yang penting harus cepat cari pengganti, kalau berdasarkan info awal, akan diadakan pertemuan dengan MSCI awal Februari,” ujar Nafan saat dihubungi, Jumat (30/1/2026).
Menurut Nafan, SRO masih memiliki ruang waktu untuk melakukan pembenahan dan meningkatkan transparansi data sebelum tenggat Mei 2026. Dengan catatan, pengganti Mahendra dan Iman mampu menunjukkan komitmen kebijakan yang pro pasar, risiko penurunan kelas pasar saham Indonesia dapat dihindari.
: : Profil Mahendra Siregar, Ketua OJK yang Mengundurkan Diri di Tengah Gejolak Pasar
“Yang penting harus menekankan komitmen pro market policy. Pokoknya harus ditekankan pada kebijakan itu, ini yang terpenting agar bisa menjaga kepercayaan para pelaku pasar, termasuk MSCI,” tegas Nafan.
Sebelumnya, OJK secara resmi mengumumkan pengunduran diri tiga pejabatnya, yakni Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Aditya Jayaantara.
Mahendra Siregar menyatakan pengunduran dirinya bersama dua pejabat OJK lainnya merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung terciptanya langkah pemulihan yang diperlukan.
“OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional,” tulisnya dalam rilis resmi, Jumat (30/1/2026).
_______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.