
Flooring Guide by Cinvex – , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka menguat seiring kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (31/10/2025). Kenaikan indeks bisnis ditopang oleh saham ANTM, AMRT, SIDO dan BRPT.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama Bursa dengan harian Bisnis Indonesia ini naik tipis 0,01% ke level 546,99 hingga pukul 09.02 WIB. Tercatat, 13 saham menguat, 10 terkoreksi, dan 4 stagnan.
Saham dengan kenaikan harga tertinggi dipimpin oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar 1,60% ke Rp3.170, diikuti saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang terapresiasi 0,98% menjadi Rp2.060 per saham.
Saham lain yang menguat adalah PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) dengan kenaikan 0,88% menjadi Rp2.220, disusul saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) menguat 0,85% ke Rp3.570 per saham.
Adapun penurunan ditorehkan saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang terkoreksi 2,65% ke Rp1.285 per saham, sedangkan saham PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) mencatat pelemahan sebesar 1,34% menjadi Rp2.210.
: Harga Emas Antam Hari Ini (31/10) Naik Dibanderol Rp2,30 Juta per Gram
IHSG terpantau naik 0,24% menuju posisi 8.203,43 hingga pukul 09.02 WIB. Hari ini, indeks komposit dibuka pada level 8.202,52 dan sempat ke posisi 8.215,55.
Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, mengatakan ada sejumlah sentimen yang memengaruhi pergerakan indeks komposit hari ini.
Dari dalam negeri, laju positif IHSG selama dua hari beruntun telah diikuti dengan inflow investor asing di pasar ekuitas domestik senilai Rp784,7 miliar.
Adapun, pergerakan indeks masih ditopang oleh saham blue chips, sedangkan rupiah JISDOR masih tertekan ke level Rp16.640 per dolar AS pada Rabu (30/10/2025).
Di sisi lain, Rating and Investment Information, Inc. (R&I) pada 24 Oktober 2025 mempertahankan Sovereign Credit Rating (SCR) Indonesia pada peringkat BBB+ dengan outlook stabil. Peringkat untuk membayar utang luar negeri atau sovereign debt tersebut melihat kondisi fiskal dan moneter yang prudent.
Dari Mancanegara, Wall Street kompak koreksi dipengaruhi oleh saham teknologi. Pelaku pasar, kata Raih, merespons negatif sinyal Jerome Powell yang memperkecil peluang pemotongan suku bunga pada Desember mendatang.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.