Strategi Investasi Saham Akhir Tahun: Blue Chip Diproyeksi Menguat, Saham Konglomerasi Selektif

Flooring Guide by Cinvex JAKARTA — Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) menjelang akhir tahun dipengaruhi sejumlah sentimen pasar, termasuk ketentuan free float terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) serta proses rebalancing indeks-indeks utama, seperti LQ45, IDX30, dan IDX80. Dinamika ini dinilai akan berdampak pada kinerja saham-saham blue chip maupun saham perusahaan konglomerasi.

Advertisements

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata memandang saham-saham kapitalisasi besar berpotensi menguat dan mendorong pergerakan IHSG, meskipun kontribusinya tidak merata.

“Pendorongnya antara lain rebalancing LQ45/IDX30/IDX80 memicu tracking atau hedging flow pada nama-nama [saham] likuid seperti perbankan besar, telko, dan consumer,” ujar Liza, dikutip Selasa (4/11/2025).

: Danantara Patok Saham 30% dalam Proyek Sampah jadi Listrik

Liza menambahkan, valuasi sejumlah saham blue chip saat ini lebih rendah dibandingkan rata-rata tiga hingga lima tahun terakhir, ditambah kejelasan proyeksi kinerja di kuartal IV 2025 serta tren pembagian dividen emiten besar pada awal 2026. Selain itu, permintaan dari dana domestik untuk aksi window dressing serta pendekatan quality bias dari investor asing menjadi penopang tambahan.

Namun, rencana free float baru MSCI diakui dapat mendorong pasar menghindari saham dengan struktur kepemilikan kompleks. Dengan demikian, reli diperkirakan dipimpin oleh saham-saham berkualitas tinggi.

Advertisements

: : Investor Asing Kembali Masuk Pasar Saham Indonesia

IHSG. – TradingView

Adapun untuk saham konglomerasi, emiten dengan free float efektif rendah atau struktur kepemilikan berlapis dinilai berisiko dikenai diskon valuasi selama belum ada kejelasan metodologi final MSCI. “Fokus pindah ke konglo yang punya arus kas kuat, disclosure kepemilikan rapi, dan pilar bisnis yang cash generative, misalnya banking, telko, dan consumer essentials,” kata Liza.

Menurut dia, peluang bagi saham konglomerasi antara lain munculnya reli pada emiten yang mengambil langkah proaktif, seperti klarifikasi kepemilikan, pembelian kembali saham, atau peningkatan free float. Katalis lain meliputi rencana spin-off, IPO anak usaha, monetisasi aset, hingga stimulus belanja domestik menjelang musim pra-Lebaran. Di sisi lain, tantangan meliputi risiko pemberitaan terkait MSCI, sensitivitas rupiah terhadap indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS, serta efektivitas kebijakan domestik terkait likuiditas.

: : IHSG Dibuka Menguat ke 8.280, Saham TLKM, BREN, hingga TPIA Kompak Hijau

Untuk sektor properti, Liza menilai diperlukan seleksi ketat terhadap saham konglomerasi. Ia menyarankan fokus pada emiten yang menunjukkan penjualan lahan kuat dan neraca konservatif, serta menghindari emiten dengan leverage tinggi tanpa dukungan arus kas memadai.

Terkait strategi, Liza merekomendasikan akumulasi bertahap pada saham-saham blue chip berkualitas yang diuntungkan oleh rebalancing dan window dressing. Investor juga disarankan memanfaatkan volatilitas harga untuk membeli saat terjadi pelemahan teknikal. Sementara itu, pengurangan eksposur pada saham yang berisiko mengalami penurunan bobot karena struktur kepemilikan dapat dipertimbangkan, kecuali terdapat sinyal perbaikan free float.

“Tetapkan juga trigger mingguan, update komunikasi MSCI, arus dana ETF/indeks lokal, pergerakan DXY/US yields, dan guidance manajemen seperti aksi buyback atau aksi korporasi lainnya,” ujarnya.

Menurut Liza, investor juga perlu mencermati saham emiten yang mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah, termasuk program penguatan likuiditas dan inisiatif investasi oleh Danantara untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional.

____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements