Strategi Manajer Investasi Sambut Window Dressing di Bursa Saham 2025

Flooring Guide by Cinvex JAKARTA — Aksi window dressing pada akhir tahun ini diproyeksikan lebih kuat. Sejumlah manajer investasi kemudian menyiapkan strategi investasinya di pasar saham.

Advertisements

Window dressing adalah strategi manajer investasi untuk mempercantik kinerja portofolio sebelum dilaporkan kepada investor pada akhir tahun buku.

Head of Investment Eastspring Investment Indonesia Liew Kong Qian mengatakan bahwa mengacu kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang terus mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH) pada November ini, sebagian efek window dressing terindikasi mulai terasa lebih awal. 

: Saham MAPI, BBCA, Hingga TLKM Bawa Indeks Bisnis-27 Ditutup Menguat

Sepanjang 2025, IHSG memang masih kokoh di zona hijau dengan menguat 18,88% secara year to date (ytd) ke level 8.416,89. IHSG sempat menyentuh ATH intraday pada pekan lalu, 10 November 2025 di level 8.478.

Kemudian, setelah pertumbuhan pasar yang cenderung terbatas dalam beberapa kuartal terakhir, pelaku pasar kemudian berfokus pada segelintir saham pendorong utama rekor IHSG. 

Advertisements

: : Saham Pilihan Investor Asing Saat IHSG Hari Ini (17/11) Cetak rekor

Lalu, terdapat perubahan pola. Langkah sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi telah membuka ruang penguatan yang lebih merata di berbagai sektor. 

“Dengan semakin banyak lini usaha yang mulai berpartisipasi dalam pemulihan ini, outlook pasar saham menuju akhir tahun terlihat semakin konstruktif dan memberikan dasar yang lebih positif bagi potensi kelanjutan window dressing,” kata Liew Kong Qian kepada Bisnis pada Senin (17/11/2025).

: : Pesona Saham Keluarga Bakrie, Saat Emiten 7 Samurai Manggung Kembali (BUMI, BRMS, Hingga ENRG)

Di tengah momentum window dressing, Eastspring pun menyiapkan sejumlah strategi. Dia mengatakan pemilihan saham diarahkan pada pendekatan yang lebih terdiversifikasi dengan fokus pemilihannya adalah dengan mengutamakan pendekatan bottom-up. Pendekatan ini mempertimbangkan fundamental perusahaan dan prospek pertumbuhan masing-masing emiten. 

“Beberapa tema utama menarik, antara lain katalis berupa perbaikan daya beli masyarakat, peningkatan likuiditas pasar, peluang dari emiten dengan proyeksi dividen tinggi sebagai proksi eksposur pendapatan yang regular, serta sektor strategis seperti energi terbarukan dan emas yang berperan sebagai aset lindung nilai,” ujarnya.

Selain itu saham-saham yang menekankan penciptaan nilai jangka panjang atau long term value creation melalui fokus manajemen terhadap total keuntungan pemegang saham juga menarik untuk dipertimbangkan sebagai sebagian dari portofolio inti yang berkelanjutan.

“Ke depannya, kami akan terus memantau dinamika global dan domestik yang berpotensi memengaruhi arah pasar,” ujar Liew Kong Qian.

Dia menilai meningkatnya ketegangan geopolitik masih dapat menimbulkan risiko bagi stabilitas ekonomi global. Sementara perkembangan inflasi di AS akan menjadi penentu utama ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. 

Menurutnya, implementasi kebijakan domestik yang konsisten dan solid tetap menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung prospek pertumbuhan ekonomi. 

“Kombinasi faktor-faktor ini akan menjadi fokus utama dalam menilai arah pasar di periode mendatang,” katanya.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan window dressing merupakan fenomena di mana pada akhir tahun, khusus Desember, harga saham cenderung naik.

“Jika terjadi, IHSG cenderung naik dan sebaliknya,” kata Rudiyanto kepada Bisnis pada Senin (17/11/2025).

Namun, dia mengatakan Panin Asset Management tidak memiliki strategi atau investasi khusus pada akhir tahun. Panin Asset Management membeli saham dan obligasi yang sesuai dengan kriteria.

Di sisi lain, menurutnya terdapat sejumlah sentimen yang mesti dicermati saat momentum akhir tahun antara lain, keputusan suku bunga The Fed, nilai tukar rupiah, dan kinerja laporan keuangan yang masih akan muncul secara bertahap.

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi mengatakan peluang adanya window dressing pada akhir tahun ini terbuka lebar. Bahkan, sentimen window dressing tahun ini bisa lebih kuat dibandingkan tahun lalu didorong likuiditas global yang longgar, aliran asing yang mulai masuk, dan stimulus fiskal dari pemerintah. 

Gerak IHSG

Telkom Indonesia (Persero) Tbk. – TradingView

“Investor institusional window dressing, asing masuk ke big caps, stimulus fiskal, dan ekspektasi awal tahun positif. Kondisi 2025 mendukung pola historis karena arus likuiditas kuat,” kata Wafi kepada Bisnis pada Senin (17/11/2025).

Menurutnya sentimen window dressing secara historis mampu mendongkrak kinerja IHSG. Secara historis, IHSG bisa terdongkrak hingga 1,5%–3,5% saat momen window dressing akhir tahun. Pada tahun ini IHSG menurutnya bisa naik 2%–4% apabila aliran asing tetap kuat dan sentimen The Fed positif.

Wafi juga memproyeksikan IHSG masih bullish pada akhir tahun ini, meskipun aada potensi koreksi sehat. Dia memperkirakan IHSG bergerak di level resistance 8.550 dan support 8.350.

Meskipun, menurutnya terdapat sejumlah tantangan IHSG akhir tahun di antaranya geopolitik, lonjakan inflasi AS, potensi delay penurunan suku bunga The Fed, dan penguatan dolar AS.

Advertisements